Analisis Saham PT Fore Kopi Indonesia Tbk. (FORE)

Banyak cafe maupun tempat makan yang berdiri belakangan ini. Ada yang berfokus pada konsep take away saja, ada pula yang menyediakan tempat makan plus kumpul-kumpul. FORE adalah salah satu dari sekian banyak cafe yang menawarkan minuman sekaligus tempat untuk kumpul-kumpul (baca:nongkrong). Beberapa gerai milik FORE seringkali terlihat ramai dipenuhi muda-mudi. Apakah hal ini menunjukkan sahamnya layak untuk dibeli?

Logo FORE
Logo PT Fore Kopi Indonesia Tbk. (FORE)

Seperti biasa, sebelum sampai ke kesimpulan layak atau tidak, banyak faktor yang perlu diperhatikan. Faktor pertama yang perlu diperhatikan adalah sejarah perusahaan itu sendiri. PT Fore Kopi Indonesia berdiri tanggal 3 Juli 2018. Outlet pertama FORE berlokasi di Senopati, Jakarta. Berselang setahun kemudian, FORE melakukan ekspansi dengan membuka outlet di Bandung, Medan, dan Surabaya sehingga total outlet yang dimiliki FORE adalah 118 outlet. Saat pandemi menyerang, FORE beradaptasi dengan meluncurkan produk kopi ukuran 1 liter dan menyesuaikan metode penjualan. Strategi ini berhasil membantu FORE untuk bertahan menghadapi pandemi. Tahun 2021 menjadi tahun pertama dibukanya Flagship Store FORE yang berlokasi Yogyakarta. Di tahun yang sama, FORE juga meluncurkan produk makanan pertamanya yaitu Fore Deli. Terobosan perusahaan juga terus dilakukan di tahun-tahun berikutnya. Di tahun 2022 misalnya, FORE meluncurkan Fore Junior, yaitu minuman non-kopi yang menyasar pangsa pasar anak-anak. Lalu di tahun 2023 FORE membuka gerai di Singapura (yup, mereka melakukan ekspansi ke luar negeri). FORE lalu melantai di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 14 April 2025.

Dari sejarahnya saja, sudah bisa ditebak bahwa FORE adalah perusahaan yang bergerak pada food and beverages. Fokus utama FORE adalah pada produk beverages seperti kopi (meliputi minuman kopi yang umum ditemui dan produk khas mereka) serta non kopi (seperti matcha tea dan sejenisnya). Selain menjual kopi, FORE juga menjual roti dan pastry (Fore Deli). Ada juga Fore Donut, gerai FORE yang berfokus menjual donat. Namun jumlah gerai Fore Donut belum sebanyak gerai FORE yang menjual kopi. 

Produk-produk FORE dipasarkan dengan dua metode, yaitu secara offline dan online. Pemasaran online dilakukan dengan menggunakan aplikasi Fore Coffee dan aplikasi pihak ketiga (seperti Gojek dan Grab). Sedangkan pemasaran offline dilakukan dengan menggunakan outlet-outlet yang dikelola mandiri oleh perusahaan. Ada tiga kategori outlet yang dikelola oleh perusahaan, yaitu kategori Flagship Store, Medium Store, dan Satellite Store. Perbedaan antara ketiga kategori tersebut terletak pada ukuran dan rancangan masing-masing outlet. Menurut laporan tahunan 2025 mereka, FORE memiliki 316 gerai yang tersebar pada 57 kota di 22 provinsi di Indonesia. Perlu dicatat juga, FORE juga memiliki empat gerai di Singapura.

Sampai di sini, FORE sounds good. Lalu bagaimana dengan manajemennya? Untuk posisi direktur utama diisi oleh Bapak Vico Lomar. Beliau pernah berkarir (mengisi posisi manajemen tentunya) di beberapa perusahaan food and beverages yang cukup terkenal, seperti MAXX COFFEE, J.CO dan Dunkin Donuts. Lalu untuk posisi komisaris utama dijabat oleh Bapak Willson Cuaca. Well, beliau juga cukup berpengalaman. Baik direktur utama maupun komisaris utama tidak pernah diberitakan melakukan hal yang aneh-aneh.

Lalu bagaimana dengan kondisi keuangan perusahaan? FORE baru saja melantai di tahun 2025, sehingga laporan keuangan di periode sebelum 2025 relatif terbatas. Selama di tahun 2025 sampai dengan 2026, FORE mencatatkan kinerja keuangan yang relatif positif, dan dengan ROE sebesar 13,24% di tahun 2025, kinerjanya tergolong cukup bagus. Hanya saja, harga saham FORE sudah relatif mahal jika dilihat dari PBV-nya (yang mencapai 12 kali dari nilai buku selembar sahamnya per tanggal 29 April 2026). Analisis ringkasnya bisa dilihat pada gambar berikut:

Analisis keuangan FORE
Analisis keuangan ringkas saham FORE (klik gambar untuk memperbesar)

Kesimpulannya, apakah FORE bisa digunakan sebagai saham investasi? Menurut saya bisa, namun ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan. Pertama, FORE baru saja IPO dan laporan keuangan yang tersedia relatif terbatas. Hal ini mengakibatkan proyeksi kinerja kedepannya agak sulit. Kedua, laporan keuangan di tahun sebelum IPO, khususnya di tahun 2021 dan 2022 justru menunjukkan FORE mengalami kerugian, sebagaimana terlihat pada gambar berikut:

Laporan keuangan ringkas FORE tahun 2021-2023
Pada tahun 2021 dan 2022, FORE menderita kerugian. Kondisi tersebut sedikit membaik pada tahun 2023 (klik gambar untuk memperbesar) 

Ketiga, FORE adalah pemain baru dalam bisnis food and beverages. Seperti yang banyak orang tahu, sektor food and beverages merupakan sektor yang sangat dinamis. Jika FORE tidak bisa beradaptasi dengan perubahan tersebut, bukan tidak mungkin FORE akan bernasib sama seperti Mixue atau Warunk Upnormal.

Disclaimer: Tulisan ini hanya sebuah analisis. Keputusan untuk membeli maupun tidak membeli saham FORE bergantung kembali kepada masing-masing investor. Penulis tidak bertanggung jawab atas dampak yang muncul akibat membeli maupun tidak membeli saham FORE.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Saham PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk. (IFII)

Analisis Saham Astra Graphia (ASGR): Perusahaan yang (Mungkin) Dipandang Sebelah Mata

Analisis Saham PT Trimitra Trans Persada Tbk. (BLOG): Perusahaan Logistik dengan Kinerja Ciamik (Part 2)