Analisis Saham PT Indomobil Sukses Makmur International Tbk (IMAS)
Semenjak perang Iran dengan Amerika berkecamuk, harga minyak dunia mengalami kenaikan. Harga bahan bakar minyak di berbagai belahan dunia pun mengalami kenaikan. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia beberapa waktu yang lalu, di mana bahan bakar non subsidi mengalami kenaikan harga. Tentunya kenaikan harga ini, jika berlangsung dalam waktu lama, dapat meningkatkan biaya transportasi pengendara sepeda motor maupun mobil.
Logikanya, ketika harga barang-barang naik, konsumen yang rasional akan mencari alternatif lain. Logika yang sama juga berlaku dalam hal transportasi. Saat harga bahan bakar naik, maka konsumen akan mencari moda transportasi lain yang biaya operasionalnya lebih rendah. Entah itu dengan menggunakan transportasi umum yang biayanya lebih murah, atau menggunakan kendaraan pribadi yang biaya operasionalnya lebih rendah daripada kendaraan berbahan bakar minyak.
Kendaraan listrik bisa menjadi salah satu alternatif saat harga bahan bakar naik. Hal ini dikarenakan harga listrik yang lebih rendah daripada harga bahan bakar minyak. Otomatis biaya yang dikeluarkan oleh pengguna kendaraan listrik untuk mengisi ‘tanki’ kendaraan mereka lebih murah daripada pengguna kendaraan berbahan bakar minyak. Sudah banyak orang yang membuktikan bahwa biaya kepemilikan kendaraan listrik lebih rendah daripada kendaraan berbahan-bakar minyak.
PT Indomobil Sukses Makmur International Tbk., dengan kode saham IMAS. adalah salah satu perusahaan yang juga memproduksi kendaraan listrik. Kendaraan yang diproduksi meliputi beragam jenis kendaraan roda empat dan roda dua. Perusahaan ini tentu punya peluang besar pada situasi saat ini. Namun, apakah sahamnya layak untuk digunakan berinvestasi?
![]() |
| Logo IMAS |
Seperti biasa, sebelum membahas manajemen dan kondisi keuangan IMAS, ada baiknya cerita singkat perihal bisnis IMAS dibahas di muka. IMAS adalah induk kelompok usaha otomotif terpadu yang memiliki beberapa anak perusahaan yang bergerak di bidang otomotif terkemuka di Indonesia. IMAS merupakan hasil penggabungan usaha antara PT Indomobil Investment Corpora dengan PT Indomulti Inti Industri Tbk. Sesuai dengan namanya, IMAS bergerak bidang otomotif (baik kendaraan roda dua maupun roda empat), alat berat, dan turunannya. IMAS memproduksi dan menjual berbagai brand kendaraan di Indonesia. Misanya Nissan, Citroen, Changan, Indomobil E-Motor, Jeep, dan sebagainya. Hampir semua brand kendaraan yang dijual IMAS memiliki kendaraan listrik.
| Beberapa brand kendaraan yang dijual IMAS |
IMAS sendiri dipimpin oleh Jusak Kertowidjojo selaku direktur utama. Beliau sudah berkarir di anak perusahaan IMAS sejak tahun 1982. Tidak ada pemberitaan negatif yang berkaitan dengan beliau (sejauh pencarian yang sudah dilakukan). Posisi komisaris utama diisi oleh Eugene Cho Park. Sama seperti direktur utama, komisaris utama tidak pernah tercatat melakukan pemberitaan negatif. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa manajemen IMAS relatif baik, dan tidak berpotensi melakukan hal-hal yang menyimpang di kemudian hari.
Walaupun sejarah dan manajemen IMAS terlihat cukup bagus, kinerja keuangan IMAS menunjukkan hal sebaliknya. Menurut laporan keuangan terakhir IMAS, yaitu laporan keuangan kuartal pertama (Q1) 2026, IMAS mencatatkan laba yang dapat diatribusikan pada pemilik enttias induk (yang disetahunkan) sebesar Rp6,3 miliar. Jika dibandingkan dengan ekuitas (yang bisa diatribusikan pada entitas induk) sebesar Rp13,72 triliun, maka laba tersebut kecil sekali (ROE-nya 0,05%). Karena kinerja keuangannya tidak begitu tinggi, maka harga sahamnya pun cukup rendah, yaitu sebesar Rp1.065 per lembar saham. Book valuenya adalah sebesar Rp3.436, sehingga PBV-nya hanya 0,31 kali (alias undervalue). Analisis ringkas dari laporan keuangan IMAS dapat dilihat pada gambar berikut:
| Analisis keuangan IMAS (klik gambar untuk memperbesar) |
Kesimpulannya, apakah sahamnya layak digunakan untuk berinvestasi? Jawabanya cukup menarik karena selain PBV-nya rendah, IMAS juga menjual berbagai kendaraan listrik. Mungkin saja penjualan kendaraan listrik IMAS mengalami peningkatan pada masa-masa seperti sekarang. The negative side is, ROE IMAS amat kecil dibandingkan dengan kompetitornya (sebut saja ASII).
Disclaimer: Tulisan ini adalah sebuah analisis, bukan rekomendasi. Penulis tidak bertanggung jawab atas keuntungan maupun kerugian yang muncul akibat pembelian saham IMAS yang dilakukan oleh investor.

Komentar
Posting Komentar