Analisis Saham PT Astra International Tbk. (ASII)
Di Indonesia ada banyak grup perusahaan yang mengelola beragam bisnis. Sebut saja grup PT Indomobil Sukses International (IMAS) yang mengelola bisnis otomotif, alat berat, dan beberapa bisnis pendukung lainnya IMAS sempat saya ulas di tulisan ini. Lalu ada grup Djarum yang mengelola bisnis rokok, perbankan, dan peralatan elektronik (Polytron, yang sekarang juga menjual sepeda motor listrik).
Mendengar kata ‘Astra’ mungkin mengingatkan pembaca akan sepeda motor dan mobil. Hal ini tidak salah, karena pada fase awal-awal berdirinya ASII, produk yang dijual adalah mobil Toyota dan sepeda motor Honda. Selain menjual produk-produk otomotif, ASII juga menjalankan bisnis dalam bidang agribisnis, jasa keuangan, alat berat, teknologi informasi, dan properti,
Grup Astra bukanlah pemain kemarin sore. Perusahaan ini sudah berdiri tahun 1957 sebagai perusahaan dagang. Di tahun 1969, perusahaan menjadi distributor kendaraan dengan merek Toyota di Indonesia. Setahun kemudian, ASII menjadi distributor sepeda motor dengan merek Honda. Di tahun-tahun selanjutnya, ASII memperlebar bisnisnya ke sektor percetakan (1970), alat-alat berat (1972), agribisnis (1973), dan finansial (1982). Belakangan ini ASII juga memperluas lini bisnisnya ke sektor infrastruktur (jalan tol), energi, suku cadang kendaraan, teknologi,kesehatan, properti, dan sebagainya. Selama perkembangan ASII ada banyak produk terkenal yang diproduksi. Sebut saja mobil Toyota Kijang, Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Toyota Agya, Honda Supra, dan sebagainya. Karena mayoritas produk ASII yang terkenal adalah kendaraan (utamanya merek Honda, Toyota, dan Daihatsu), maka banyak orang yang mengaitkan ASII dengan kendaraan.Manajemen perusahaan sendiri bisa dikatakan cukup baik karena dipimpin oleh orang-orang kompeten dan tidak pernah ada berita yang cukup buruk sehubungan dengan manajemen.Posisi presiden komisaris sendiri diisi oleh Bapak Prijono Sugiarto, sedangkan posisi presiden direktur diisi oleh Bapak Djony Bunarto Tjondro. Keduanya cukup berpengalaman dan sudah bekerja di grup Astra dalam jangka waktu yang cukup lama.
Kondisi keuangan ASII sampai denga tahun 2025 umumnya cukup bagus, walaupun cenderung mengalami fluktuasi. Menurut laporan kuartal 4 tahun 2025, ASII mencatatkan laba (yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk) sebesar Rp32,7 triliun. Ekuitas yang diatribusikan pada pemilik entitas induk pada periode tersebut adalah sebesar Rp228,9 triliun. Sehingga ROE ASII pada tahun 2025 adalah sebesar 14,32%. Analisis ringkas laporan keuangan ASII bisa dilihat pada gambar berikut:
![]() |
| Analisis ringkas keuangan ASII (klik gambar untuk memperbesar) |
Pada gambar tersebut dapat dilihat bahwa kinerja keuangan ASII cenderung mengalami penurunan, walaupun sempat naik di tahun 2024. Bahkan pada kuartal 1 2026 ini, ROE disetahunkan ASII hanya sebesar 10,05%. Hal ini kemungkinan besar diakibatkan oleh situasi geopolitik (perang Iran dengan Amerika), dan banyaknya kompetitor baru yang muncul di Indonesia (khususnya kompetitor yang menjual kendaraan listrik).
Kesimpulannya, apakah ASII layak digunakan untuk investasi? Menurut saya cukup layak dan harganya cukup menarik. Saat artikel ini ditulis, harga selembar saham ASII adalah Rp5.825, dan PBV-nya berada pada angka 1,01 kali, Namun sebelum membeli saham ASII ada baiknya kita melihat strategi manajemen menghadapi kondisi saat ini. Mengingat di situasi seperti ini, ada banyak peluang yang bisa dilakukan oleh manajemen. Misalnya untuk bisnis otomotif mereka, ASII bisa memperluas pasar dengan menjual mobil listrik dan sepeda motor listrik.
Disclaimer: Tulisan ini bukanlah rekomendasi untuk membeli saham ASII. Risiko yang timbul akibat pembelian saham ASII menjadi tanggung jawab masing-masing investor.


Komentar
Posting Komentar