Analisis Saham ERAA: Harga Wajar, Kinerja Lumayan

Saat artikel ini ditulis, banyak saham yang sedang didiskon. Hal ini bukan dikarenakan fundamental saham tersebut buruk, melainkan dikarenakan munculnya risiko sistematis. Risiko sistematis adalah risiko yang berdampak pada seluruh perusahaan, dan tidak dapat dihindari oleh seluruh perusahaan yang ada di Bursa Efek Indonesia. Layaknya manusia pada umumnya, saat ada barang yang kita inginkan dikenai diskon, tentu barang itu akan membeli.

Hal yang sama juga berlaku dalam dunia pasar modal. Banyak saham yang sudah terdiskon, bahkan terdiskon lebih dari 50%. Tentunya saat memilih saham, tidak hanya diskon yang dilihat, namun juga aspek fundamental, aspek manajemen dan aspek masa depannya. Salah satu perusahaan yang memiliki fundamental yang bagus, diskon yang lumayan besar, manajemen yang bagus, dan masa depan yang cukup gemilang adalah PT Erajaya Swasembada Tbk., dengan kode saham ERAA.

Seperti biasa sebelum membahas aspek keuangan, manajemen, dan produk sebuah emiten, ada baiknya sejarah perusahaan dibahas di muka. PT Erajaya Swasembada Tbk. didirikan pada tanggal 8 Oktober 1996. Pada masa-masa awal berdiri, ERAA bergerak pada sektor ritel, khususnya pada usaha distribusi perangkat komunikasi. Mulai tahun 2000, anak perusahaan yang saat itu baru berjumlah delapan perusahaan mulai aktif beroperasi. Perusahaan mencatatkan milestone penting dengan listing pada BEI tanggal 14 Desember 2011. Sampai dengan akhir tahun 2025, perusahaan telah memiliki ribuan gerai yang tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia. ERAA juga telah menjalin kemitraan dengan berbagai perusahaan teknologi ternama. Beberapa diantaranya ada Samsung, Apple, Google, Huawei, dan sebagainya. 

Mendengar kata Erajaya, ingatan kita mungkin tertuju pada toko-toko yang menjual ponsel. Hal ini tidak salah karena salah satu bisnis ERAA adalah menjual ponsel. ERAA menjual ponsel melalui beberapa brand toko. Misalnya iBox, Erafone, dan beberapa toko dengan menggunakan brand perangkatnya langsung (misalnya Samsung, Xiaomi, Huawei, dan sebagainya). Selain menjual ponsel, ERAA juga menjual bisnis lainnya. ERAA melalui anak perusahaan mereka (yaitu PT Sinar Eka Selaras Tbk. atau ERAL) juga menjual produk-produk selain ponsel dari brand ternama. Sebut saja mobil listrik Xpeng dari China, pakaian dari Levi's, GPS dari Garmin, dan sebagainya.

Erafone, salah satu jaringan toko ponsel milik ERAA

Lalu bagaimana dengan sisi manajemennya? Untuk posisi komisaris utama diisi oleh Bapak Alexander Halim Kusuma. Lalu untuk posisi direktur utama diisi oleh Bapak Budiarto Halim. Sejauh penelusuran yang sudah dilakukan, reputasi beliau bisa dikatakan baik-baik saja dan sudah relatif berpengalaman. Dari sisi merek sendiri, relatif jarang muncul berita negatif sehubungan dengan bisnis ERAA. Sehingga dapat disimpulkan baik perusahaan maupun manajemennya relatif baik dan aman.

Lalu bagaimana dengan kondisi keuangannya? Berdasarkan laporan keuangan terbaru, yaitu laporan tiga bulan pertama tahun 2026, ERAA berhasil memperoleh laba disetahunkan sebesar Rp1,8 triliun. Pada periode yang sama ERAA memiliki ekuitas sebesar Rp9,5 triliun. Sehingga ROE disetahunkan ERAA adalah sebesar 18,1%. Di periode yang sama pula, ERAA memiliki 15,95 miliar lembar saham yang beredar. Itu artinya book value selembar saham ERAA adalah Rp598,6. Harga sahamnya saat artikel ini ditulis? Selembar saham ERAA diperdagangkan dengan harga Rp356. Artinya PBV ERAA adalah 0,5 kali. Analisis keuangan ringkas ERAA bisa dilihat pada tabel berikut:

Analisis keuangan ERAA (klik gambar untuk memperbesar)

Kesimpulannya, apakah ERAA layak untuk investasi? Ditinjau dari sisi finansial, historis, dan manajemennya, ERAA cukup menarik untuk investasi jangka panjang. Apalabi PBV-nya di bawah 1, dan saat IHSG nanti naik, saham ERAA berpeluang juga untuk naik. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh investor. Pertama, kenaikan ROE ERAA di tiga bulan pertama tahun 2026 diakibatkan oleh kenaikan penjualan mereka. Ada kemungkinan penjualan mereka turun karena harga RAM yang tinggi. Kenapa? Karena kenaikan harga RAM akan membuat harga produk-produk seperti smartphone, tablet, dan laptop naik. Naiknya harga akan mengakibatkan konsumen berpeluang menunda pembelian mereka. Kedua, fluktuasi nilai tukar mata uang asing (yang akhir-akhir ini cukup tinggi) berpeluang mempengaruhi keuntungan yang mereka peroleh. Fluktuasi ini baru terjadi setelah ERAA merilis laporan keuangan tiga bulan pertama mereka. Jadi, kesimpulannya adalah kita tunggu laporan tengah tahun (atau laporan kuartal 2) ERAA, yang kemungkinan akan rilis bulan Juli 2026 mendatang.

Disclaimer: Tulisan ini bukanlah rekomendasi untuk membeli saham ERAA. Risiko dan kerugian yang muncul akibat pembelian saham ERAA menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Saham Astra Graphia (ASGR): Perusahaan yang (Mungkin) Dipandang Sebelah Mata

Analisis Saham BAYU: Perusahaan Kecil dengan Kinerja Menakjubkan (dan Harganya Masih Wajar)

Analisis Saham PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk. (IFII)