Analisis Saham MIDI: Kinerja Menarik, Harga Lumayan Murah

Di bulan Juli ini perusahaan terbuka sudah mulai merilis laporan keuangan mereka. Ada yang menunjukkan peningkatan kinerja yang signifikan, dan ada pula yang kinerjanya stagnan atau bahkan menurun. Salah satu perusahaan ritel yang kinerjanya cukup bagus dan mengalami peningkatan sampai saat artikel ini ditulis adalah MIDI alias PT Midi Utama Indonesia Tbk.

Logo Aflamidi, salah satu brand yang dinaungi MIDI. Sekilas tampilannya mirip dengan logo Alfamart

Seperti biasa sebelum membahas tentang prospek MIDI, ada baiknya kita membahas sejarah MIDI terlebih dahulu. PT Midi Utama Indonesia Tbk. didirikan pada tahun 2007 di Jakarta. Awalnya perusahaan ini bernama PT Midimart Indonesia. Pada tahun yang sama perusahaan ini membuka gerai pertamanya di Jakarta Pusat. Setahun berselang nama perusahaan berubah menjadi PT Midi Utama Indonesia. Perusahaan pada tahun yang sama juga membuka cabang di Surabaya, Jawa Timur. Di tahun 2009 perusahaan membuka gerai Alfaexpress yang berlokasi di Mangga Besar, Jakarta Barat. Tahun 2010 MIDI melakukan berbagai ekspansi. Diantaranya membuka cabang di Bali, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. Di bulan November 2010 perusahaan melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan juga melakukan ekspansi dengan mendatangkan merek Lawson yang berasal dari Jepang. Lisensi untuk menggunakan merek Lawson tersebut diperoleh MIDI pada tahun 2011. Setahun setelah memperoleh lisensi merek Lawson, perusahaan membuka cabang di Sumatera Utara. Perkembangan penting terjadi pada tahun 2013. Sekitar 41,82% saham MIDI yang awalnya dimiliki oleh PT Amanda Cipta Persada dijual pada PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) yang ulasan sahamnya bisa dibaca di sini. Otomatis AMRT menjadi pemegang saham pengendali MIDI. Di tahun 2016, MIDI melakukan rebranding dengan merubah merek Alfa supermarket menjadi Alfamidi super. Perusahaan juga mendirikan PT Lancar Wiguna Sejahtera di tahun 2011. Anak perusahaan ini berfokus menjalankan convenience store dengan merek Lawson yang lisensinya sudah mereka miliki sejak tahun 2011. Hingga tahun 2025, perusahaan sudah mengoperasikan ribuan gerai yang tersebar di 24 provinsi. Tahun 2025 juga menandai tahun terakhir MIDI mengelola Lawson. Mengapa? Karena di tahun 2025 MIDI melepas PT Lancar Wiguna Sejahtera kepada induk perusahaan mereka yaitu AMRT

Lalu bagaimana dengan proses bisnisnya? Alfamidi bergerak dalam bidang usaha retail dan perdagangan eceran. Proses bisnisnya cukup sederhana. Dimulai dari membeli barang di pemasok, lalu barang tersebut dikirim ke gudang. Nantinya barang tersebut akan dikirim ke minimarket maupun supermarket yang mereka kelola. Brand yang mereka kelola adalah Alfamidi, Alfamidi super, dan Midi Fresh. Tampilan minimarket maupun supermarket yang mereka kelola sangat mirip dengan minimarket Alfamart. Produk yang mereka jual juga sangat mirip dengan produk yang dijual oleh Alfamart. MIDI menjual berbagai produk dan jasa, mulai dari produk grocery sampai dengan jasa pembayaran tagihan (seperti jasa pembayaran listrik). Layanan tersebut tersedia di ribuan gerai yang tersebar di 24 provinsi di Indonesia. Rinciannya per tahun 2025 MIDI memiliki 2.503 gerai Alfamidi, 80 gerai Alfamidi super, dan 4 gerai Midi fresh.

Untuk manajemen sendiri, posisi presiden direktur MIDI diisi oleh Bapak Rullyanto. Sedangkan posisi ketua dewan komisaris diisi oleh Bapak Budiyanto Djoko Susanto. Sejauh penelusuran yang saya lakukan, baik MIDI maupun pengurus perusahaan tidak pernah diberitakan melakukan hal yang aneh-aneh. Jadi bisa dikatakan manajemen MIDI relatif aman.

Lalu bagaimana dengan keuangannya? Berdasarkan laporan keuangan terakhir, yaitu laporan keuangan kuartal 2 2026, selama enam bulan pertama di tahun 2026 ini MIDI memperoleh laba bersih sebesar Rp485,9 miliar. Jika jumlah itu disetahunkan (dikali dua) maka jumlah itu sama dengan Rp971,8 miliar. Ekuitas MIDI pada periode yang sama adalah Rp4,631 triliun. Sehingga diperoleh ROE disetahunkan MIDI adalah sebesar 20,9%. Analisis ringkas keuangan MIDI dapat dilihat pada tabel berikut: 

Analisis keuangan saham MIDI
Analisis saham PT Midi Utama Indonesia Tbk. (Klik gambar untuk memperbesar)

Kesimpulannya? Jika dibandingkan dengan perusahaan induknya yaitu AMRT, MIDI terlihat memiliki kinerja keuangan yang lebih baik. Terlebih saat artikel ini ditulis selembar saham MIDI ditransaksikan dengan harga Rp284 per lembar. Alias PBV-nya hanya 2 kali. MIDI mungkin bukan perusahaan ritel dengan PBV terkecil di BEI tetapi dengan PBV sebesar itu MIDI sudah termasuk murah. Sehingga MIDI menjadi alternatif menarik untuk investor yang ingin berinvestasi pada perusahaan terbuka dengan jenis usaha ritel dan perdagangan.

Disclaimer: Tulisan ini bukanlah ajakan untuk membeli saham MIDI. Keuntungan, kerugian, maupun dampak lainnya yang muncul akibat memberli saham MIDI menjadi tanggung jawab masing-masing investor

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Saham Astra Graphia (ASGR): Perusahaan yang (Mungkin) Dipandang Sebelah Mata

Analisis Saham BAYU: Perusahaan Kecil dengan Kinerja Menakjubkan (dan Harganya Masih Wajar)

Analisis Saham PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk. (IFII)